My life was normal before. Paling tantangan terbesar gue cuma ngurusin kakak yang selalu mintain uang hasil jerih payah gue tiap minggunya. That’s not a big deal. I still can handle it.
Tapi enggak untuk yang satu ini.
Bisa gue lihat dari jendela rumah ada dia yang lagi berdiri didepan pintu sambil sesekali memijat keningnya. Tanpa gue sebut juga pasti kalian tahu kan siapa si dia ini?
Bisa dilihat juga dari sini wajah frustasinya, kulitnya yang pucat, juga matanya yang sayu.
Hhhhh… emosi gue memang lagi meledak-ledak sama orang ini, but I still have a sense of humanity, kok.
Cklek!
“Apalagi?”
“Abel, I’m sorry…”
Hati gue terasa sedikit sesak waktu denger suaranya. Suara lantang dan percaya diri yang biasanya keluar dari mulut pria dihadapan gue ini, kini berganti menjadi serak dan sedikit bergetar.
He’s definitely not feeling well right now.